Minggu, 23 Januari 2011

Pahlawan Tepat pada Medan yang tepat!!


Ada kisah menarik, seorang pejuang Afghanistan baru saja pulang ke Indonesia selepas usahanya berjihad di sana. Jiwa kepahlawanan dan patriotismenya tidak hilang hanya berpindah lokasi. Jiwa itu seakan haus medan tempur akhirnya mencari dimana tempat ia bisa lukiskan prestasi. Tapi sayang, ini adalah Indonesia, tidak ada perang di sini. Namun ia ngotot bahwa cara ia menjadi pahlawan adalah melalui gempuran militer, melalui desingan peluru, melalui ledakan-ledakan mesiu sebagaimana ia meledakkan tank soviet dulu. Akhirnya ia ledakkan sebuah cafe di Bali.

Entah ini kisah nyata atau bukan, saya dapat dari rekaman tausyiah Anis Matta. Kadang kala kita bertindak seperti ini, meski tidak seekstrem ini. Kita ingin berprestasi, kita ingin merakit suatu amal yang tepat untuk kita persembahkan pada Allah. Namun kita kurang lama dalam proses analisis, dan bertanya, “Apakah memang ini yang dibutuhkan masyarakat?” Apakah memang Bom yang dibutuhkan Indonesia?

Silahkan bermimpi untuk membuat Pameran buku sastra Pramudya, Ekspo Batik, demo bela angklung milik Indonesia, konser Haddad Alwi, atau Bakti Sosial untuk Komodo, tapi sebelum buahkan mimpi itu jadi kenyataan, sepertinya perlu kita Tanya sekali lagi, apakah Indonesia sekarang sedang butuh Haddad Alwi? Apakah Komodo yang harus kita selamatkan dengan memberi makan atau beberapa anak jalanan yang sedang mengemis di lampu merah sana? Apakah mungkin ada kegiatan lain yang lebih penting?

Karena beramal itu bukan sekedar cari sensasi. Bukan sekedar cari ketenangan hati, bukan sekedar membesarkan organisasi, menaikkan pamor pribadi, bukan sekedar supaya “Organisasi saya ada program kerjanya”. Bukan sekedar supaya ketika Laporan Pertanggung Jawaban saya tidak dimarahi oleh massa. Dan bahkan bukan supaya sekedar “saya bisa belajar” dan saya puas karena telah berhasil. Bukan sekedar melanjutkan pendahulu saya.

Ketika kita beramal dan memilih untuk menjadi pahlawan, kita terbang melaju melintasi batas-batas kepentingan pribadi. Kita terbang dan melihat umat, masyarakat, dunia secara luas dan bertindak untuk kemaslahatan itu semua, bukan untuk kemasalahatan diri atau ego pribadi. Di sanalah letak pengorbanannya.

Dalam buku Fiqh Prioritas, Sayyid Quthb menuliskan salah satu contoh ketimpangan dalam memilih amal: Pada zaman Imam Ghazali, orang-orang merasa aib bila mereka tidak menuntut ilmu pengetahuan di bidang fiqh, padahal ia merupakan fardhu kifayah, dan pada masa yang sama merekam meninggalkan wajib kifayah yang lain; seperti ilmu kedokteran. Sehingga di suatu negeri kadangkala ada lima puluh orang ahlif fiqh, dan tidak ada seorangpun dokter muslim.

Al Qur’an Surat At-Taubah:111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.

Ini adalah jual beli, maka produk kita mutlak harus produk terbaik agar layak dibeli Allah. Allah adalah pembeli yang teliti, yang paham betul barang macam apa yang akan dibeli-Nya. Salah satu syarat produk terbaik adalah produk yang memang dibutuhkan oleh pasar. Maka kita perlu telaten memikirkan apakah produk kita, amalan kita ini memang amalan yang terbaik di masa kita? Apakah memang sesuai kapasitas dan memang dibutuhkan?
Namun masih lebih baik orang yang terus beramal meski amalannya tidak melalui analisis di atas, Urgensi beramal ini tertulis dalam At-Taubah:105. Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Kita terus bekerja, namun alangkah sayangnya bila ternyata sebenarnya bisa dengan energy yang sama, kita dapatkan pahala dan keutamaan yang lebih besar karena amalan kita memang tepat.

Mari berikan yang terbaik.
Nb:Ini konteksnya di luar ibadah Mahdhoh, Ibadah kita seperti puasa sholat dll, adalah suatu mutlak dan menjadi syarat dasar.

Tidak ada komentar: