Selasa, 18 Januari 2011

Kisah Bisnis Pojok Tahu : Psikologi dan Motivasi Konsumen


Seperti yang diceritakan pada artikel sebelumnya tentang Pojok Tahu, kami berusaha berbisnis berjualan tahu di suatu FoodCourt. Bisnis ini mengalami suatu cobaan yang berat. Pendatang yang beli tidak banyak. Salah satu factor yang menjadi penyebab setelah kami analisis adalah factor psikologis.

Salah satu rekan satu foodcourt kami adalah tim penjualn nasi uduk tempe mendoan yang dijual bersama goring ayam,lele,dan perdagingan lainnya. Juga ada yang menjual nasi tutug oncom. Mereka sudah menjadi pengusaha di sana sejak bulan November sedangkan kami baru memulai bulan januari. Kami menjual suatu barang yang benar-benar berbeda yaitu cemilan berbentuk tahu pedas.

Beberapa usaha sudah diusahakan untuk menjual tahu tersebut, salah satunya adalah dnegan cara memberikan sampel gratis kepada konsumen yang kebetulan datang. Tapi sayang tahu pedas ini tak kunjung terjual. Sehingga dalam kepanikan kami sadar bahwa konsumen datang untuk makan berat. Motivasi itu terbentuk karena konsumen sebelumnya datang ke sana memang untuk makan berat, seperti sarapan atau makan siang. Kami dengan berani melawan arus dengan menjual cemilan. Akhirnya muncul beberapa menu seperti tahu guling(ada lontong di menu tersbeut ang menjadi pengganti nasi) atau nasi tahu abon. Namun tetap saja kami kalah karena makan siang yang dianggap makan siang adalah nasi dengan daging. Suatu alur pikir tersebut sudah terbentuk dikarenakan oleh produk yang sejauh ini sudah dijual. Hal ini juga selain karena design produk kami belum utuh.

Pun bila produk kami terjual, hanya akan terjual bila produk rekan sudah habis dan memang konsumen tidak punya pilihan lain.

Hikmah dari peristiwa ini adalah selalu amati dan selami proses berpikir dari konsumen. Kalau di mata kuliah kewirausahaan ada yang namanya buying process. Proses tersebut menjelaskan bagaimana suatu keinginan konsumen akhirnya bertemu dengan penjualan dan transaksi. Bila memang konsumen hadir untuk membeli makanan berat, maka jangan jual snack. Bila konsumen hadir untuk mengenyangkan perut, jangan hadirkan uatu makanan ringan. Ada tempat-tempat di mana target konsumennya adalah kalangan kaya yang hadir untuk melakukan wisata kuliner, maka yang dijual adalah keunikan, kekhasan, dan sensasi. Kita harus mampu mendalami perasaan konsumen.

Seharusnya motivasi konsumen tersebut dapat diedukasi dan diubah melalui promosi. Memang kami pun kurang sempurna dalam mengerjakan pemasaran. Kami belum melakukan penyebaran leaflet, pengumuman, atau pemasangan banner di depan foodcourt. Namun sekali lagi, promosi dan edukasi pun tidak akan sulit bila memang produk kita senada dengan kebutuhan dan perasaan dari konsumen. Sungguh pedagang harus punya perasaan yang peka.

Tidak ada komentar: